|
A |
ku terlahir dengan nama Faathir Reza Avicena pada 23 Maret 1995. Aku tidak pernah meminum susu formula namun ASI. Semasa aku kecil,aku sering pindah – pindah rumah. Aku pernah tinggal di Dinoyo, Bumiayu, Sumbersari, Betek dan terakhir di Arjosari. 2 tahun setelah aku lahir,Tuhan memberiku seorang adik yang lucu. Sebelum masuk SD, aku itu orang yang pemalu, pendiam, dan ga’ neko – neko. Namun sejak aku masuk SD, aku menjadiorang yang pemberani, blak – blakan, dan neko – neko.
|
S |
aat kelas satu SD, aku itu tergolong siswa yang pandai dan rajin (bukan maksud sombong loh). Aku dan beberapa temanku (yang juga pandai) ditunjuk sebagai asisten guru. Kami ditugasi untuk mengajari teman yang kesulitan. Hal itu berlanjut sampai ke kelas dua.
|
S |
aat aku duduk di kelas dua, aku ketemu banyak temen baru. Waktu itu, kupikir kelas dua sama mudahnya dengan kelas dua. Ternyata tidak, bebannya lebih berat. Awalnya aku ditawari sebagai ketua kelas.Pasti sebagian orang menerimanya begitu saja. Namun aku tidak menerimanya karena tidak jadi ketua kelas saja sudah repot apalagi jadi ketua kelas. Akupun melewati hari – hariku hingga naik ke kelas tiga.
|
D |
i kelas tiga, emosiku tidak stabil. Disenggol sedikit langsung marah. Di kelas ini pula aku bertemu guru yang “sedikit” pilih kasih. Misalnya saja, seluruh kelas tidak mengerjakan PR. Seluruh kelas dimarahi, kecuali satu anak. Yah, mau bagaimana lagi. Akhirnya, datang juga saat kenaikan kelas.
|
K |
elas empat merupakan kelas di mana emosiku mulai stabil. Di saat itu, aku bersua kembali dengan guru kelas duaku. Saat itu merupakan saat paling santai dalam hidupku. Bisa dibilang kelas empat merupakan kelas tersantai dari lima kelas lainnya. Tanpa terasa, akupun naik ke kelas lima.
|
C |
apek sekali ! Itulah gambaran kelas limaku. Mengapa ? Karena, guru kelas lima selalu memberikan tes pada murid barunya untuk dijadikan peserta lomba. Terpilihlah 3 orang sebagai peserta lomba. Pastilah, para pembaca sekalian tau siapa orang itu. Yup, benar (lho, kapan jawabnya). 3 orang itu adalah saya dan 2 orang teman saya. Karena mengikuti berbagai lomba, nama kamipun menjadi terkenal hingga ke penjuru sekolah (ini juga ga’ maksud sombong loh). Ketika musim lomba telah berakhir, aku menjalani ujian kenaikan ke kelas enam.
|
S |
etali tiga uang dengan kelas lima. Di kelas ini, aku juga diikutkan berbagai macam lomba oleh sekolah. Walaupun kelihatannya saya sibuk lomba melulu, saya tetap tidak melupakan teman sekelas saya. Ketika mereka mengalami kesulitan, maka saya akan membantu sebisa saya. Enam bulan sebelum UPM, aku sudah tidak diikutkan lomba lagi karena konsentrasi ke UPM. Enam bulan berlalu, UPM tiba. Setelah UPM yang amat melelahkan, kami tinggal menunggu hasil DANEM kami (NB : aku dan teman – teman menyebut UPM bukan Ujian Pengendali Mutu, tapi Ujian Paling Melelahkan). Setelah kami menerima hasil DANEM kami, ada sedikit kelucuan. Ada dua nilai yang sama dan merupakan nilai tertinggi. Nilai tersebut merupakan nilaiku dan seorang temanku yang sama – sama masuk SMP 5. Demikian ceritaku di SD.
|
A |
ku memilih SMP 5 sebagai jenjang pendidikan setelah SD. Setelah MOS, aku masuk ke kelas 7H. Di sana, aku dicalonkan sebagai ketua kelas oleh temanku. Akupun memutuskan untuk mencoba menjadi ketua kelas. Beberapa bulan setelah itu, diadakan tes IQ di sekolah. Setelah hasil tes IQ keluar, kebetulan IQ saya mencukupi untuk masuk ke kelas akselerasi. Saya dan 5 teman saya yang lain dari 7H masuk ke kelas itu. Sampai tulisan ini dibuat, saya masih bertengger di kelas itu.
|
D |
emikian Autobiografiku. Aku berterimakasih karena pembaca telah meluangkan waktunya untuk membaca Autobiografi ini. Dan juga, saya berterima kasih karena pembaca telah mengunjungi blog saya ini. Bye – Bye.






wah fotomu baguss banget tapi terlalu narsis yg disebelah loe aja gak lihat kamera tapi ngomong-ngomong siapa yang di sebelah loe?
di sebelahku itu adikku